diam-diam aku melukis dirimu, ketika di sepertiga malam engkau terlelap dalam tidurmu. kupandangi wajahmu, kupahami tubuhmu dan kubuka seluruh hijab hatimu, hingga aku menemukan sesuatu didalamnya : sebutir cinta
dan aku pun tersenyum
diam-diam aku melukis dirimu, ketika di sepertiga malam engkau terlelap dalam tidurmu. kupandangi wajahmu, kupahami tubuhmu dan kubuka seluruh hijab hatimu, hingga aku menemukan sesuatu didalamnya : sebutir cinta
dan aku pun tersenyum
telah aku kubur sekotak penuh mimpi, tepat lima tahun yang lalu, saat bulan setengah telanjang dan tertidur di sampingku, di ranjang yang bertaburan janji. ia mengikatku!
(tapi) mereka kini mati muda
kita tak perlu bersedih, sebab angin selalu tahu kemana akan membawa kita. meski daun-daun telah berguguran, di bangku taman itu aku pernah menunggumu
lima tahun kemudian
kau kembali dari surga dan turun ke dunia dengan sayap penuh warna. Kubaca lagi kotak mimpiku, hilang sudah kata-katanya diterbangkan angin
hanya satu kalimat yang tersisa
: aku ingin bahagia
jumat pagi.
bunyi jam berdentang-dentang dikepalaku, seribu kali laksana kunang-kunang yang berbisik lirih. dalam malam yang teramat sunyi, kesedihan pun dilahirkan.
bom itu meledak lagi.
di dalam hatiku